Metode Pembayaran

More Galleries | Leave a comment

Asuransi Brilliance Hasanah Maxima

Karena Setiap Langkah Anda Begitu Bernilai Setiap orang ingin meraih kesejahteraan finansial yang aman, menguntungkan, dan penuh berkah di setiap tahap kehidupan. Kesejahteraan finansial dapat diwujudkan melalui program asuransi jiwa dan investasi berdasarkan prinsip syariah untuk saling tolong menolong dengan … Continue reading

More Galleries | Leave a comment

Hospital Income & Surgical Rider (HISR)

Di zaman modern seperti sekarang dimana gaya hidup sudah begitu beragam, kesehatan seringkali menjadi masalah yang dihadapi dan menghabiskan biaya yang tak sedikit. Saatnya Anda merencanakan dan memilih Program Perlindungan Kesehatan bagi seluruh keluarga Anda secara bijaksana untuk melengkapi proteksi … Continue reading

More Galleries | Leave a comment

Accidental Death Benefit (ADB)

Tak ada yang berharap musibah datang, namun bagaimanapun juga, berjaga-jaga lebih baik daripada tidak sama sekali.

Manfaat Asuransi ADB

ADB akan memberikan santunan sebesar 100% Uang Pertanggungan apabila Tertanggung meninggal dunia akibat kecelakaan dalam masa pertanggungan asuransi.

Ketentuan Accidental Death Benefit

Usia Masuk 15 – 65 tahun
Masa Pembayaran Premi (MPP) Mengikuti Produk Dasar atau hingga tertanggung usia 70 tahun, mana yang lebih dahulu terjadi.
Masa Asuransi Hingga tertanggung usia 70 tahun
Posted in Asuransi Warisan, Produk | Tagged , , , , , | Leave a comment

Cara Mendaftar Menjadi Agen

Persyaratan sebagai Agen :

[1] Bertempat tinggal di Kabupaten/Kota Bekasi, Karawang dan Tangerang :

– Mengisi formulir pendaftaran Agen
– Memiliki alamat email dan atau telpon/hp yang mudah dihubungi
– Mengikuti trainning dasar di Kantor Agency Sun Life Syariah terdekat.
– Bersedia mengikuti test Lisensi AAJI dan AASI.

[2] Bertempat tinggal selain alamat di No. [1] diatas :

– Mengisi formulir pendaftaran Agen
– Memiliki alamat email dan telpon/hp yang mudah dihubungi
– Memiliki atau bisa menggunakan komputer yang terhubung ke internet
– Mengikuti training jarak jauh menggunakan email atau internet
– Memiliki mesin scan atau dekat dengan tempat yang bisa melakukan scan dokumen
– Memiliki komputer dan printer yang terhubung ke internet atau dekat dengan lokasi warnet
– Berdekatan dengan perusahaan jasa pengiriman dokumen, seperti Kantor POS, Tiki/JNE, atau perusahaan logistic lainnya
– Bersedia mengikuti test Lisensi AAJI dan AASI.

Posted in Agency, Dana Pendidikan Anak | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Sun Life Financial Shariah

Sebagai perusahaan asuransi yang terkemuka, PT Sun Life Financial Indonesia terus berfokus pada nasabah dengan menawarkan berbagai produk inovatif. Pada Desember 2010, kami meluncurkan bisnis syariah yang memungkinkan kami berbagi mengenai nilai dan konsep syariah serta membantu nasabah dalam memenuhi kebutuhan nasabah akan produk asuransi syariah.
Untuk memastikan para nasabah menerima pemahaman yang jelas mengenai konsep syariah dari konsultan keuangan kami, PT Sun Life Financial Indonesia telah merancang program pelatihan dan sertifikasi syariah bagi seluruh tenaga pemasaran kami.

Posted in Produk | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pelajaran dari Mimpi Raja dan Nabi Yusuf AS

Sahabat, ada yang ingin menerapkan perintah Alloh Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi Yusuf AS kepada rajanya ?

Sahabat,
Ada masa menghasilkan (panen, masa produktif), ada masa paceklik (tidak panen, tidak memiliki penghasilan, masa pensiun).

Alloh memerintahkan kepada kita semua, umat manusia, untuk menabung, di saat masih panen, di saat masih memiliki penghasilan, dalam rangka menghadapi masa paceklik, masa tidak panen, masa tidak memiliki penghasilan, masa tua, masa menikmati penghasilan.

Sebagian dari kita, masih menganggap perintah menabung ini merupakan bid’ah (mengada-ada, menambah-nambah, tidak ada perintah). Sangat berani mereka mengatakan menabung itu bid’ah, tidak ada perintah. Padahal ini telah diperintahkan dari Alloh Ta’ala, kepada seluruh umat manusia, sejak jaman baheula (dahulu kala) sampai sampai Alloh menghendaki akhirnya.

Salah satu perintah menabung dari Alloh Ta’ala ini dijelaskan oleh Alloh, baik di Al Kitab (Taurat / Perjanjian Lama dan Injil / Perjanjian Baru) maupun di Al Qur’an. Subhanalloh, semuanya dalam kisah yang sama, yaitu kisah Nabi Yusuf AS.

Dalam Al Qur’an, QS. Yusuf, Alloh mengawalinya dengan pemberitahuan tegas dan agar kita memperhatikannya sebagai berikut :

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
QS Yusuf (12):1. Alif, laam, raa[741]. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Sahabat
Dalam kisah Nabi Yusuf ini, diantaranya adalah perintah Alloh, agar kita menabung, untuk menghadapi hari tua kita, atau untuk modal awal anak-anak kita sebelum dewasa, sehingga kita bisa memiliki kesempatan yang luas di masa tua untuk :

* Memperbanyak ibadah, tanpa direpotkan lagi masalah penghasilan (keuangan)
* Memperbanyak da’wah, tanpa direpotkan untuk mencari rizki untuk hidup sehari-hari
* Memperbanyak sedekah dan membantu karib kerabat dan orang-orang disekitar kita yang membutuhkan
* Menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin
* Membesarkan anak-anak kita, hingga anak-anak kita bisa memeras anggur sendiri (memiliki penghasilan sendiri, mandiri, dan mampu melanjutkan kehidupannya), sehingga bisa menjadi anak yang meneruskan ilmu-ilmu yang bermanfaat yang kita ajarkan kepadanya, dan menjadi anak sholeh, yang mendoakan kita.
* Dana cadangan berobat dan rawat kesehatan, jika sudah tidak ada yang menanggungnya.

QS Yusuf (12):46. “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

QS Yusuf (12):47. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

QS Yusuf (12):48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

QS Yusuf (12):49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.”

Jadi, jelaslah sudah. Bahwasanya menabung bukanlah bid’ah, tetapi merupakan perintah. Agar kita di masa tua, di masa tidak produktif nanti, dapat memperbanyak ibadah.

Kita menabung saat memiliki penghasilan. Dalam kisah diatas, menabung 7 tahun di saat bercocok tanam, bukan nanti, menunggu pensiun baru menabung. Ini keliru. Menaung selama 7 tahun ini, untuk menghadapi 7 tahun masa paceklik, masa tidak bisa bercocok tanam. Sehingga setelah masa packelik itu berlangsung, generasi penerus kita, dapat melanjutkan kehidupan, dengan tabungan yang ada.

Wallohu Ta’ala A’lam Bi Showab.

Ayo persiapkan dana darurat selagi sempat, segeralah menabung, sebelum datang masa berkabung.

Hubungi email kami :
Tel/WA 0811825332, email harun.mubaroq@sunlife.co.id
Atau klik ini : hubungi kami

———–
[741] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Posted in Berita Asuransi, Lain-lain, Sharing | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Lebih Adil dengan Asuransi Syariah

Tak kenal maka tak sayang. Setidaknya begitulah potret yang bisa diambil dari masih kurangnya minat masyarakat mengikuti asuransi syariah. Ini tak lain karena kurangnya pengetahuan tentang lembaga keuangan tersebut. Masyarakat masih minim dengan pengetahuan asuransi. Apalagi ketika asuransi telah disandingkan dengan nama syariah, tentu lebih banyak istilah yang perlu diketahui. Tak hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarga, sebenarnya berasuransi juga sangat penting dijalankan oleh pebisnis dalam rangka menanggulagi risiko kerugian pada aset-aset usahanya.

Sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), asuransi syariah diartikan sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariah.

Jika seseorang menjadi peserta atau asuransi syariah, dalam istilah syariah disebut sebagail muamman, sedangkan perusahaan asuransi disebut dengan muammin. Selayaknya memulai sebuah asuransi, nasabah mengadakan kontrak dengan perusahaan asuransi. Nah, di sini lah perbedaannya dimulai.

Pada dasarnya asuransi syariah dan asuransi konvensional mempunyai tujuan sama, yaitu pengelolaan atau penanggulangan risiko. Namun beberapa perbedaan mendasar dalam kontrak awal menjadikan asuransi syariah dinilai lebih fair dibandingkan asuransi konvensional.

Menurut Ketua Badan Pelaksana Harian DSN Ma’ruf Amin, berbeda dengan asuransi konvensional yang menerapkan kontrak jual beli atau biasa disebut tabaduli, asuransi syariah menggunakan kontrak takafuli atau tolong menolong antara nasabah satu dengan nasabah yang lain ketika dalam kesulitan. “Jadi di asuransi syariah ada risk sharing,” ujar Ma’ruf. Sedangkan dengan akad tabaduli, terjadi jual beli atas risiko yang dipertanggungkan antara nasabah dengan perusahaan asuransi. Dengan kata lain terjadi transfer risiko (risk transferring) dari nasabah ke perusahaan asuransi.

Pengelolaan dana melalui asuransi syariah diyakini dapat terhindar dari unsur yang diharamkan Islam yaitu riba, gharar (ketidakjelasan dana) dan maisir (judi). Untuk itu perusahaan asuransi syariah memegang amanah dalam menginvestasikan dana nasabah sesuai prinsip syariah. Sesuai akadnya, mudharabah, yaitu akad kerja sama dimana peserta menyediakan 100% modal, dan dikelola oleh perusahaan asuransi, dengan menentukan kontrak bagi hasil.

Jika nasabah asuransi syariah mengajukan klaim, dana klaim berasal dari rekening tabarru’ (kebajikan) seluruh peserta. Berbeda dengan klaim asuransi konvensional yang berasal dari perusahaan asuransinya.

Satu lagi kelebihan asuransi syariah, yaitu tidak mengenal istilah dana hangus layaknya asuransi konvensional. Peserta asuransi syariah bisa mendapatkan uangnya kembali meskipun belum datang jatuh tempo. Karena konsepnya adalah wadiah (titipan), dana dikembalikan dari rekening peserta yang telah dipisahkan dari rekening tabarru’. Lagi pula biaya operasional asuransi syariah. Hal tersebut wajar, mengingat pembebanan biaya operasional ditanggung pemegang polis asuransi, terbatas pada kisaran 30% dari premi, sehingga pembentukan pada nilai tunai cepat terbentuk di tahun pertama dengan memiliki nilai 70% dari premi. Bandingkan dengan pembebanan biaya operasional asuransi konvensional yang ditanggung seluruhnya oleh pemegang polis, sehingga pembentukan nilai tunai menjadi lambat di tahun-tahun pertama menjadi bernilai nol.

Kondisi tersebut juga memungkinkan peserta asuransi umum syariah menerima kembali sebagian premi jika ternyata hingga saat jatuh tempo belum ada klaim. Tentunya juga dengan perhitungan bagi hasil yang telah disetujui di awal kontrak, yang nilainya bergantung pada hasil investasi pada tahun tersebut. (SH)

Posted on by Administrator | Leave a comment

Mengapa Berasuransi Syariah ?

Definisi asuransi syari’ah menurut Dewan Syariah Nasional adalah usaha untuk saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko/bahaya tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.

Asuransi Syariah adalah sebuah sistem dimana para partisipan/anggota/peserta mendonasikan/menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian partisipan/anggota/peserta. Peranan perusahaan disini hanya sebatas pengelolaan operasional perusahaan asuransi serta investasi dari dana-dana/kontribusi yang diterima/dilimpahkan kepada perusahaan.

Asuransi syari’ah disebut juga dengan asuransi ta’awun yang artinya tolong menolong atau saling membantu . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Asuransi ta’awun prinsip dasarnya adalah dasar syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2, yang artinya :

“Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”

Mangapa harus Asuransi Syariah?

Asuransi yang selama ini digunakan oleh mayoritas masyarakat (non syariah) bukan merupakan asuransi yang dikenal oleh para pendahulu dari kalangan ahli fiqh, karena tidak termasuk transaksi yang dikenal oleh fiqh Islam, dan tidak pula dari kalangan para sahabat yang membahas hukimnya.

Perbedaan pendapat tentang asuransi tersebut disebabkan oleh perbedaan ilmu dan ijtihad mereka. Alasannya antara lain :

1. Pada transaksi asuransi tersebut terdapat jahalah (ketidaktahuan) dan ghoror (ketidakpastian), dimana tidak diketahui siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian pada saat berakhirnya periode asuransi.

2. Di dalamnya terdapat riba atau syubhat riba. Hal ini akan lebih jelas dalam asuransi jiwa, dimana seseorang yang memberi polis asuransi membayar sejumlah kecil dana/premi dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak dimasa yang akan datang, namun bisa saja dia tidak mendapatkannya. Jadi pada hakekatnya transaksi ini adalah tukar menukar uang, dan dengan adanya tambahan dari uang yang dibayarkan, maka ini jelas mengandung unsur riba, baik riba fadl dan riba nasi’ah.

3. Transaksi ini bisa mengantarkan kedua belah pihak pada permusuhan dan perselisihan ketika terjadinya musibah. Dimana masing-masing pihak berusaha melimpahkan kerugian kepada pihak lain. Perselisihan tersebut bisa berujung ke pengadilan.

4. Asuransi ini termasuk jenis perjudian, karena salahsatu pihak membayar sedikit harta untuk mendapatkan harta yang lebih banyak dengan cara untung-untungan atau tanpa pekerjaan. Jika terjadi kecelakaan ia berhak mendapatkan semua harta yang dijanjikan, tapi jika tidak maka ia tidak akan mendapatkan apapun.

Melihat keempat hal di atas, dapat dikatakan bahwa transaksi dalam asuransi yang selama ini kita kenal, belum sesuai dengan transaksi yang dikenal dalam fiqh Islam. Asuransi syari’ah dengan prinsip ta’awunnya, dapat diterima oleh masyarakat dan berkembang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir ini.

Asuransi syariah dengan perjanjian di awal yang jelas dan transparan dengan aqad yang sesuai syariah, dimana dana-dana dan premi asuransi yang terkumpul (disebut juga dengan dana tabarru’) akan dikelola secara profesional oleh perusahaan asuransi syariah melalui investasi syar’i dengan berlandaskan prinsip syariah.

Dan pada akhirnya semua dana yang dikelola tersebut (dana tabarru’) nantinya akan dipergunakan untuk menghadapi dan mengantisipasi terjadinya musibah/bencana/klaim yang terjadi diantara peserta asuransi. Melalui asuransi syari’ah, kita mempersiapkan diri secara finansial dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip transaksi yang sesuai dengan fiqh Islam. Jadi tidak ada keraguan untuk berasuransi syari’ah. (Yusma Nirmala & Team)

(Sumber: Majalah ReInfokus April 2006)

Posted in Berita Asuransi, Dasar Hukum, Konsultasi, Lain-lain, Sharing | 1 Comment