Pelajaran dari Mimpi Raja dan Nabi Yusuf AS

Sahabat, ada yang ingin menerapkan perintah Alloh Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi Yusuf AS kepada rajanya ?

Sahabat,
Ada masa menghasilkan (panen, masa produktif), ada masa paceklik (tidak panen, tidak memiliki penghasilan, masa pensiun).

Alloh memerintahkan kepada kita semua, umat manusia, untuk menabung, di saat masih panen, di saat masih memiliki penghasilan, dalam rangka menghadapi masa paceklik, masa tidak panen, masa tidak memiliki penghasilan, masa tua, masa menikmati penghasilan.

Sebagian dari kita, masih menganggap perintah menabung ini merupakan bid’ah (mengada-ada, menambah-nambah, tidak ada perintah). Sangat berani mereka mengatakan menabung itu bid’ah, tidak ada perintah. Padahal ini telah diperintahkan dari Alloh Ta’ala, kepada seluruh umat manusia, sejak jaman baheula (dahulu kala) sampai sampai Alloh menghendaki akhirnya.

Salah satu perintah menabung dari Alloh Ta’ala ini dijelaskan oleh Alloh, baik di Al Kitab (Taurat / Perjanjian Lama dan Injil / Perjanjian Baru) maupun di Al Qur’an. Subhanalloh, semuanya dalam kisah yang sama, yaitu kisah Nabi Yusuf AS.

Dalam Al Qur’an, QS. Yusuf, Alloh mengawalinya dengan pemberitahuan tegas dan agar kita memperhatikannya sebagai berikut :

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
QS Yusuf (12):1. Alif, laam, raa[741]. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Sahabat
Dalam kisah Nabi Yusuf ini, diantaranya adalah perintah Alloh, agar kita menabung, untuk menghadapi hari tua kita, atau untuk modal awal anak-anak kita sebelum dewasa, sehingga kita bisa memiliki kesempatan yang luas di masa tua untuk :

* Memperbanyak ibadah, tanpa direpotkan lagi masalah penghasilan (keuangan)
* Memperbanyak da’wah, tanpa direpotkan untuk mencari rizki untuk hidup sehari-hari
* Memperbanyak sedekah dan membantu karib kerabat dan orang-orang disekitar kita yang membutuhkan
* Menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin
* Membesarkan anak-anak kita, hingga anak-anak kita bisa memeras anggur sendiri (memiliki penghasilan sendiri, mandiri, dan mampu melanjutkan kehidupannya), sehingga bisa menjadi anak yang meneruskan ilmu-ilmu yang bermanfaat yang kita ajarkan kepadanya, dan menjadi anak sholeh, yang mendoakan kita.
* Dana cadangan berobat dan rawat kesehatan, jika sudah tidak ada yang menanggungnya.

QS Yusuf (12):46. “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

QS Yusuf (12):47. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

QS Yusuf (12):48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

QS Yusuf (12):49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.”

Jadi, jelaslah sudah. Bahwasanya menabung bukanlah bid’ah, tetapi merupakan perintah. Agar kita di masa tua, di masa tidak produktif nanti, dapat memperbanyak ibadah.

Kita menabung saat memiliki penghasilan. Dalam kisah diatas, menabung 7 tahun di saat bercocok tanam, bukan nanti, menunggu pensiun baru menabung. Ini keliru. Menaung selama 7 tahun ini, untuk menghadapi 7 tahun masa paceklik, masa tidak bisa bercocok tanam. Sehingga setelah masa packelik itu berlangsung, generasi penerus kita, dapat melanjutkan kehidupan, dengan tabungan yang ada.

Wallohu Ta’ala A’lam Bi Showab.

Ayo persiapkan dana darurat selagi sempat, segeralah menabung, sebelum datang masa berkabung.

Hubungi email kami :
Tel/WA 0811825332, email harun.mubaroq@sunlife.co.id
Atau klik ini : hubungi kami

———–
[741] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

This entry was posted in Berita Asuransi, Lain-lain, Sharing and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *