Dana Rawat Inap dan Gawat Darurat

Salah satu pembiayaan yang cukup menguras keuangan keluarga adalah biaya rawat inap dan gawat darurat Bagi yang sudah memiliki jaminan rawat inap yang tidak terbatas, tidak perlu repot dan pusing memikirkan dua hal saat rawat inap, yaitu kesembuhan dan biayanya. … Continue reading

More Galleries | Leave a comment

The Cronicles Of Narnia

Selain kisah-kisah dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang sangat baik untuk memberikan pendidikan dan pelajaran anak-anak kita. Novel juga merupakan salah satu pembentuk imajinasi anak, dan orang tua. Namun untuk novel, kita perlu mengarahkan atau mendongengkan dengan lebih berhati-hati, … Continue reading

More Galleries | Leave a comment

Berpesta di Hari Raya

Sahabat, Mohon maaf baru mengingatkan…. Hari Raya Idul Adha, adalah salah satu dari dua hari raya besar umat Islam untuk berpesta. Semarak pesta boleh dilakukan semeriah mungkin, asalkan sesuai dengan syariat. Pada hari raya kurban ini, dan tiga hari sesudahnya, … Continue reading

More Galleries | Leave a comment

BPHTB

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

BPHTB adalah pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.

Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan, berserta bangunan di atasnya sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-undang Nomor 16 tentang Rumah Susun dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lainnya.

Dasar pengenaan atas bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dari nilai perolehan obyek pajak dengan besaran tarif sebesar 5% dari nilai perolehan obyek pajak.

Dengan semakin pesatnya pertumbuhan penduduk, dan masih banyaknya masyarakat yang belum memahami UU di atas, semakin banyak orang yang tidak bisa hidup lebih baik karena tidak memiliki dana minimal 5% dan biaya-biaya lainnya, yang hampir 10% dari obyek yang harus diolahnya. Meskipun, obyek tersebut merupakan obyek warisan dari orang tua atau keluarga.

Contoh :
Karena kebutuhan hidup, Bp. A harus menjual sebagian tanah, yang diwariskan dari  ayahnya, yang mana ayahnya dapat dari kakeknya. Ayahnya saat ini tidak memiliki cukup dana untuk membaliknamakan seluruh warisan yang diterimanya kepada anak-anaknya. Demikian pula anak-anaknya. Sementara itu, harga semakin membumbung tinggi, pembelipun tidak sanggup jika proses itu dibebankan kepadanya. Dan banyak permasalahan lain yang sering terjadi di dalam permasalahan tanah, bangunan dan obyek lainnya yang memiliki kesulitan proses karena permasalahan pendanaan.

Takaful, membantu merencanakan pengadaan dana untuk pembiayaan untuk itu semua.
Sehingga ahli waris atau orang-orang tercinta yang berhak memiliki dan memanfaatkan obyek pajak tersebut.

Ada yang ingin disampaikan, berbagi pengalaman, berbagi informasi, pertanyaan dan lainnya tentang BPHTB atau produk diatas, silakan hubungi : halo.takaful@gmail.com
Atau telpon di 021-2870-3834, 021-9833 8943.

Posted in Asuransi Warisan, Produk | Tagged , , , , , | Leave a comment

Cara Mendaftar Menjadi Agen Takaful

Persyaratan menjadi agen Takaful :

  1. Mengisi formulir pendaftaran agen
  2. Melampirkan fotokopi KTP/SIM, NPWP dan KK
  3. Melampirkan fotokopi halaman pertama buku rekening Muamalat atau Bank Syariah Mandiri
  4. Melampirkan pasfoto 3X4 atau 4X6 1 helai

Atau kirim email ke halo.takaful@gmail.com, dengan subject DAFTAR AGEN

Selamat bergabung dengan barisan da’wah ekonomi syariah, yang halal dan berkah, bersama Takaful Indonesia, Pertama Murni Syariah dan Istiqomah dalam Syariah

 

Posted in Agency, Dana Pendidikan Anak | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Keunggulan Takaful

Takaful Indonesia Logo
You need to upgrade your Flash Player

Mengapa harus memilih Takaful ?

1. Murni Syariah (Halal)

Adanya kepastian bahwa produk yang di pasarkan adalah halal, karena selain Takaful hanya melayani produk-produk yang halal dengan cara yang halal saja, juga semua produk bahkan system operasional, investasi, asal muasal dana klaim, diawasi penuh agar sesuai fatwa Dewan Pengawas Syaraiah sehingga jelas kehalalannya. Ini prinsip dasar bagi setiap muslim. Dimana apa yang digunakan bukan sekedar baik, tetapi juga harus halal. Dewan Pengawas Syariah juga memberikan pengawasan terhadap system operasional dari sejak produk akan di luncurkan hingga pelayanan klaim.

2. Sesuai Syariah (berkembang mengikuti aturan syariah)

Dalam perkembangan dunia fiqh muamalat (aturan bertransaksi), selalu saja ditemukan dalil-dalil (dasar-dasar) naqli (Al Qur’an) maupun dalil aqli (As Sunnah, Ijtihad dan lainnya) yang terus digali oleh para ulama (ahli ilmu) dan fuqaha (ahli fiqh). Takaful, selalu mengikuti perkembangan fiqh tersebut, dengan kontrol penuh dari Dewan Pengawas Syariah

3. Akad Ta’awun (tolong-menolong, saling menanggung)

Takaful menggunakan aqad yang jelas halal, yakni ta’awun, di mana menjadikan seluruh peserta saling menanggung bila terjadi musibah dengan memberikan sebagian tabaru’ atau derma, hal ini terjadi sejak perjanjian memulai asuransi.

3. Jelas sumber dananya (terhindar dari gharar)

Adanya pemisahan dana cadangan klaim dengan asset atau tabungn peserta, dengan pemisahan ini berarti sejak awal ada kejelasan sumber yang di gunakan untuk membayar klaim.

4. Pengelolaan hanya ditempat yang halal (terhindar dari maysir dan riba’)

Sistem Investasi sesuai dengan Syariah, Semua dana terkumpul di investasikan pada intrumen investasi Syariah, sehingga terhindar dari transaksi yang berbasis judi dan ribawi.

Salah satu ciri dari investasi syariah, adalah menggunakan bagi hasil, bukan bunga. Ciri-ciri dari bagi hasil, keuntungan dibagi antara investor dan pemilik usaha, dengan kesepakatan yang sudah ditentukan secara adil dan tergantung dari aktual keuntungan perusahaan. Jika perusahaan untung tinggi, maka bagi hasil juga tinggi. Jika keuntungan perusahaan rendah, atau bahkan rugi, maka bagi hasil juga rendah, atau bahkan rugi. Sedangkan bunga, sudah ditentukan tetap. Sehingga baik perusahaan untung atau tidak, tetap harus memabyar bunga sebesar yang sudah ditentukan. Dan ini sangat menguntungkan investor, tapi sangat merugikan perusahaan.

Sesuai dengan aturan transaksi syariah, Takaful sepenuhnya hanya mengelola yang syariah, di tempat yang syariah, sesuai dengan aturan syariah.

5. Kepemilikan dana sepenuhnya ada ditangan peserta (kendali di tangan peserta)

Kepemikian dana untuk produk investasi ada pada peserta sedangkan Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah, yang memeroleh dana pengelolaan sesuai dengan ijin dari peserta.

6. Terhindar dari suap dan penyuapan (terhindar dari risywah)

Takaful dalam operasionalnya selalu mengikuti aturan syariah sejak pendirian sampai dengan pemasaran produk, dan semua yang terkait dengan ini, sesuai aturan syariah dilarang keras melakukan risywah (suap).

7. Pilihan produk dan manfaat di tangan peserta

Produk Takaful yang lengkap, semua produk ada, dan bukan paket. Peserta menentukan dan memilih sendiri produk dan manfaat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya, tanpa diikuti rasa was-was hanya membayar premi dan kemanfaatannya tidak jelas.

Posted in Produk | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pelajaran dari Mimpi Raja dan Nabi Yusuf AS

Sahabat, ada yang ingin menerapkan perintah Alloh Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi Yusuf AS kepada rajanya ?

Sahabat,
Ada masa menghasilkan (panen, masa produktif), ada masa paceklik (tidak panen, tidak memiliki penghasilan, masa pensiun).

Alloh memerintahkan kepada kita semua, umat manusia, untuk menabung, di saat masih panen, di saat masih memiliki penghasilan, dalam rangka menghadapi masa paceklik, masa tidak panen, masa tidak memiliki penghasilan, masa tua, masa menikmati penghasilan.

Sebagian dari kita, masih menganggap perintah menabung ini merupakan bid’ah (mengada-ada, menambah-nambah, tidak ada perintah). Sangat berani mereka mengatakan menabung itu bid’ah, tidak ada perintah. Padahal ini telah diperintahkan dari Alloh Ta’ala, kepada seluruh umat manusia, sejak jaman baheula (dahulu kala) sampai sampai Alloh menghendaki akhirnya.

Salah satu perintah menabung dari Alloh Ta’ala ini dijelaskan oleh Alloh, baik di Al Kitab (Taurat / Perjanjian Lama dan Injil / Perjanjian Baru) maupun di Al Qur’an. Subhanalloh, semuanya dalam kisah yang sama, yaitu kisah Nabi Yusuf AS.

Dalam Al Qur’an, QS. Yusuf, Alloh mengawalinya dengan pemberitahuan tegas dan agar kita memperhatikannya sebagai berikut :

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
QS Yusuf (12):1. Alif, laam, raa[741]. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Sahabat
Dalam kisah Nabi Yusuf ini, diantaranya adalah perintah Alloh, agar kita menabung, untuk menghadapi hari tua kita, atau untuk modal awal anak-anak kita sebelum dewasa, sehingga kita bisa memiliki kesempatan yang luas di masa tua untuk :

* Memperbanyak ibadah, tanpa direpotkan lagi masalah penghasilan (keuangan)
* Memperbanyak da’wah, tanpa direpotkan untuk mencari rizki untuk hidup sehari-hari
* Memperbanyak sedekah dan membantu karib kerabat dan orang-orang disekitar kita yang membutuhkan
* Menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin
* Membesarkan anak-anak kita, hingga anak-anak kita bisa memeras anggur sendiri (memiliki penghasilan sendiri, mandiri, dan mampu melanjutkan kehidupannya), sehingga bisa menjadi anak yang meneruskan ilmu-ilmu yang bermanfaat yang kita ajarkan kepadanya, dan menjadi anak sholeh, yang mendoakan kita.
* Dana cadangan berobat dan rawat kesehatan, jika sudah tidak ada yang menanggungnya.

QS Yusuf (12):46. “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

QS Yusuf (12):47. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

QS Yusuf (12):48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

QS Yusuf (12):49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.”

Jadi, jelaslah sudah. Bahwasanya menabung bukanlah bid’ah, tetapi merupakan perintah. Agar kita di masa tua, di masa tidak produktif nanti, dapat memperbanyak ibadah.

Kita menabung saat memiliki penghasilan. Dalam kisah diatas, menabung 7 tahun di saat bercocok tanam, bukan nanti, menunggu pensiun baru menabung. Ini keliru. Menaung selama 7 tahun ini, untuk menghadapi 7 tahun masa paceklik, masa tidak bisa bercocok tanam. Sehingga setelah masa packelik itu berlangsung, generasi penerus kita, dapat melanjutkan kehidupan, dengan tabungan yang ada.

Wallohu Ta’ala A’lam Bi Showab.

Ayo persiapkan dana darurat selagi sempat, segeralah menabung, sebelum datang masa berkabung.

Hubungi email kami :
konsultasi.takaful@gmail.com     : Untuk konsultasikan tabungan berkah dengan kami
layanan.takaful@gmail.com          : Jika anda sudah memiliki keputusan untuk menabung
Atau klik ini : hubungi kami

———–
[741] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Posted in Berita Asuransi, Lain-lain, Sharing | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Lebih Adil dengan Asuransi Syariah

Tak kenal maka tak sayang. Setidaknya begitulah potret yang bisa diambil dari masih kurangnya minat masyarakat mengikuti asuransi syariah. Ini tak lain karena kurangnya pengetahuan tentang lembaga keuangan tersebut. Masyarakat masih minim dengan pengetahuan asuransi. Apalagi ketika asuransi telah disandingkan dengan nama syariah, tentu lebih banyak istilah yang perlu diketahui. Tak hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarga, sebenarnya berasuransi juga sangat penting dijalankan oleh pebisnis dalam rangka menanggulagi risiko kerugian pada aset-aset usahanya.

Sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), asuransi syariah diartikan sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariah.

Jika seseorang menjadi peserta atau asuransi syariah, dalam istilah syariah disebut sebagail muamman, sedangkan perusahaan asuransi disebut dengan muammin. Selayaknya memulai sebuah asuransi, nasabah mengadakan kontrak dengan perusahaan asuransi. Nah, di sini lah perbedaannya dimulai.

Pada dasarnya asuransi syariah dan asuransi konvensional mempunyai tujuan sama, yaitu pengelolaan atau penanggulangan risiko. Namun beberapa perbedaan mendasar dalam kontrak awal menjadikan asuransi syariah dinilai lebih fair dibandingkan asuransi konvensional.

Menurut Ketua Badan Pelaksana Harian DSN Ma’ruf Amin, berbeda dengan asuransi konvensional yang menerapkan kontrak jual beli atau biasa disebut tabaduli, asuransi syariah menggunakan kontrak takafuli atau tolong menolong antara nasabah satu dengan nasabah yang lain ketika dalam kesulitan. “Jadi di asuransi syariah ada risk sharing,” ujar Ma’ruf. Sedangkan dengan akad tabaduli, terjadi jual beli atas risiko yang dipertanggungkan antara nasabah dengan perusahaan asuransi. Dengan kata lain terjadi transfer risiko (risk transferring) dari nasabah ke perusahaan asuransi.

Pengelolaan dana melalui asuransi syariah diyakini dapat terhindar dari unsur yang diharamkan Islam yaitu riba, gharar (ketidakjelasan dana) dan maisir (judi). Untuk itu perusahaan asuransi syariah memegang amanah dalam menginvestasikan dana nasabah sesuai prinsip syariah. Sesuai akadnya, mudharabah, yaitu akad kerja sama dimana peserta menyediakan 100% modal, dan dikelola oleh perusahaan asuransi, dengan menentukan kontrak bagi hasil.

Jika nasabah asuransi syariah mengajukan klaim, dana klaim berasal dari rekening tabarru’ (kebajikan) seluruh peserta. Berbeda dengan klaim asuransi konvensional yang berasal dari perusahaan asuransinya.

Satu lagi kelebihan asuransi syariah, yaitu tidak mengenal istilah dana hangus layaknya asuransi konvensional. Peserta asuransi syariah bisa mendapatkan uangnya kembali meskipun belum datang jatuh tempo. Karena konsepnya adalah wadiah (titipan), dana dikembalikan dari rekening peserta yang telah dipisahkan dari rekening tabarru’. Lagi pula biaya operasional asuransi syariah. Hal tersebut wajar, mengingat pembebanan biaya operasional ditanggung pemegang polis asuransi, terbatas pada kisaran 30% dari premi, sehingga pembentukan pada nilai tunai cepat terbentuk di tahun pertama dengan memiliki nilai 70% dari premi. Bandingkan dengan pembebanan biaya operasional asuransi konvensional yang ditanggung seluruhnya oleh pemegang polis, sehingga pembentukan nilai tunai menjadi lambat di tahun-tahun pertama menjadi bernilai nol.

Kondisi tersebut juga memungkinkan peserta asuransi umum syariah menerima kembali sebagian premi jika ternyata hingga saat jatuh tempo belum ada klaim. Tentunya juga dengan perhitungan bagi hasil yang telah disetujui di awal kontrak, yang nilainya bergantung pada hasil investasi pada tahun tersebut. (SH)

Posted on by Redaksi Takaful | Leave a comment

Mengapa Berasuransi Syariah ?

Definisi asuransi syari’ah menurut Dewan Syariah Nasional adalah usaha untuk saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko/bahaya tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.

Asuransi Syariah adalah sebuah sistem dimana para partisipan/anggota/peserta mendonasikan/menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian partisipan/anggota/peserta. Peranan perusahaan disini hanya sebatas pengelolaan operasional perusahaan asuransi serta investasi dari dana-dana/kontribusi yang diterima/dilimpahkan kepada perusahaan.

Asuransi syari’ah disebut juga dengan asuransi ta’awun yang artinya tolong menolong atau saling membantu . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Asuransi ta’awun prinsip dasarnya adalah dasar syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2, yang artinya :

“Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”

Mangapa harus Asuransi Syariah?

Asuransi yang selama ini digunakan oleh mayoritas masyarakat (non syariah) bukan merupakan asuransi yang dikenal oleh para pendahulu dari kalangan ahli fiqh, karena tidak termasuk transaksi yang dikenal oleh fiqh Islam, dan tidak pula dari kalangan para sahabat yang membahas hukimnya.

Perbedaan pendapat tentang asuransi tersebut disebabkan oleh perbedaan ilmu dan ijtihad mereka. Alasannya antara lain :

1. Pada transaksi asuransi tersebut terdapat jahalah (ketidaktahuan) dan ghoror (ketidakpastian), dimana tidak diketahui siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian pada saat berakhirnya periode asuransi.

2. Di dalamnya terdapat riba atau syubhat riba. Hal ini akan lebih jelas dalam asuransi jiwa, dimana seseorang yang memberi polis asuransi membayar sejumlah kecil dana/premi dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak dimasa yang akan datang, namun bisa saja dia tidak mendapatkannya. Jadi pada hakekatnya transaksi ini adalah tukar menukar uang, dan dengan adanya tambahan dari uang yang dibayarkan, maka ini jelas mengandung unsur riba, baik riba fadl dan riba nasi’ah.

3. Transaksi ini bisa mengantarkan kedua belah pihak pada permusuhan dan perselisihan ketika terjadinya musibah. Dimana masing-masing pihak berusaha melimpahkan kerugian kepada pihak lain. Perselisihan tersebut bisa berujung ke pengadilan.

4. Asuransi ini termasuk jenis perjudian, karena salahsatu pihak membayar sedikit harta untuk mendapatkan harta yang lebih banyak dengan cara untung-untungan atau tanpa pekerjaan. Jika terjadi kecelakaan ia berhak mendapatkan semua harta yang dijanjikan, tapi jika tidak maka ia tidak akan mendapatkan apapun.

Melihat keempat hal di atas, dapat dikatakan bahwa transaksi dalam asuransi yang selama ini kita kenal, belum sesuai dengan transaksi yang dikenal dalam fiqh Islam. Asuransi syari’ah dengan prinsip ta’awunnya, dapat diterima oleh masyarakat dan berkembang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir ini.

Asuransi syariah dengan perjanjian di awal yang jelas dan transparan dengan aqad yang sesuai syariah, dimana dana-dana dan premi asuransi yang terkumpul (disebut juga dengan dana tabarru’) akan dikelola secara profesional oleh perusahaan asuransi syariah melalui investasi syar’i dengan berlandaskan prinsip syariah.

Dan pada akhirnya semua dana yang dikelola tersebut (dana tabarru’) nantinya akan dipergunakan untuk menghadapi dan mengantisipasi terjadinya musibah/bencana/klaim yang terjadi diantara peserta asuransi. Melalui asuransi syari’ah, kita mempersiapkan diri secara finansial dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip transaksi yang sesuai dengan fiqh Islam. Jadi tidak ada keraguan untuk berasuransi syari’ah. (Yusma Nirmala & Team)

(Sumber: Majalah ReInfokus April 2006)

Posted in Berita Asuransi, Dasar Hukum, Konsultasi, Lain-lain, Sharing | 1 Comment